gusTALKS |Journey, Review, Blogging and Information Technologie

Klik Judul dibawah ini untuk memBaca Inspirasi lainnya

  • Berat difisik, tapi. Akhirnya kelar juga. Menyelesaikan blueprint Sekolah Darurat yang baru diresmikan. Published 02/02/09 - 71comments
  • beberap dokumentasi Meskipun terlambat. Semoga tidak mengurangi ke-update-an acara Peresmian Sekolah Darurat Published 30/10/09 - 10 comments
  • Kawan, perkuat sekolah kami Akhirnya, pembukaan Sekolah Darurat Wirausaha untuk umum dilakukan KH Hasyim Muzadi.Published 19/01/09 - 120 comments
  • Walmiki dan Sudirman Saya sangat tergoda dengan tema besar dalam Novel Rahuvana Tattwa. Sebuah epik fiksi.Published 25/10/08 - 53 comments
Kumpulan Artikel | blogging (29) inspiring (43) IT (3) journey (64) Review (11)

Orang pinggiran, Pahlawan Anonymous, Syuhada Semarang , Megawati Soekarno Putri, Miranda Goultom, SBY, dan Yusuf Kalla serta Soetrisno Bachir


gus an ordinary blogger

Tahun 1946. 75 orang muda . Asal Solo. Sragen. Dan Salatiga berkumpul. Sebagiannya menyelipkan senjata tajam. Yang lainnya berkalungkan peluru dansenjata laras. Baru tiba dari penyerbuan markas besar Belanda di Jawa Tengah yang ada di seputar Tugumuda sekarang.

Mereka baru saja menyelonjorkan kaki. Melepas lelah di sebuah rumah sederhana. Di kawasan Demak yang berbatasan dengan wilayah Semarang bagian Timur. Tepatnya di Kampung Gugen. Pedurungan. Mereka seumuran dengan mahasiswa - yang 60 tahun kemudian- memasang tiang bendera dan board penanda bahwa di tempat itu telah dikubur dalam satu lubang 74 orang muda dari relawan kelasykaran HizbulLah (tentara Tuhan). Dan 2 orang satuan relawan SabililLah (jalan Tuhan).

*****
Bayangkanlah bagaimana mereka berpamit ke orang tuanya, selepas sholat 'iedul fitri dikampung halaman mereka masing-masing. Bukan untuk mencari kerja atau menutut ilmu yang lebih tinggi. Tetapi untuk berjalan kaki. Melewati pegunungan dan belantara. Meski dengan bekal makanan yang serba kurang. Untuk melawan Belanda dengan senjata seadanya.

Bayangkanlah pula rasa pedih menyayat keluarga mereka begitu tahu, bahwa bertepatan dengan tanggal 11 muharam, atau 3 bulan kemudian. Tentara Nica yang membawa pesawat jenis capung dari arah Gudang British American Tobbaca (BAT) Pengapon mengintai mereka.

Dan kemudian mengepung markas perlawanan mereka. Markas yang terletak di tengah perkampungan yang telah senyap karena penduduk telah diungsikan untuk menyelamatkan diri. Mereka disergap dari arah utara dan selatan sekaligus.Kemudian Nica membombardir markas yang terbuat dari kayu tersebut dengan mitraliur,takindato, dan granat. Sebagiannya ditembaki dengan pistol jarak dekat.

74 orang muda itu mati demi sesuatu yang masih abstrak. (1 orang berhasil menyelinap dan menyelamatkan dokumen pertahanan). Sesuatu yang dianggapnya akan membuat generasi sesudahnya tak lagi hidup tertindas. Membuat ibu mereka tak lagi antre ransum makan atau minyak tanah. Membuat orang muda seusia mereka bisa sekolah sampai perguruan Tinggi. Karena sekolah tak lagi dimonopoli oleh anak Ambtenaar, Priyayi atau saudagar kaya saja. Ya, sesuatu yang kini telah mereka sederhanakan dengan hanya satu kata. Yaitu kata: Merdeka. Kata yang membuat mereka hanya memiliki dua pilihan: 'Isy Kariman Au Mut Syahidan' Pilihan Hidup Mulia atau Mati sebagai Syuhada. Jadi, tak ada yang lain, selain pilihan melawan saat pengepungan tersebut.

*****
Bayangkanlah seandainya kita melihat. Bahwa ternyata jenasah 74 anak, kawan, kakak, atau adik mereka dikubur dalam satu lubang sempit. Dengan cara digelontorkan begitu saja. Sama seperti kita membuang sampah di lubang pembuangan. (Tapi lebih menyakitkan lagi kalau keluarga mereka tahu bahwa ditempat dimana sekelompok anak muda telah menyelamatkan republik ini, tak lagi terurus. Hanya penanda kecil diujung jalan. Yang menunjukkan bahwa di tengah perkampungan yang masuk wilayah administrasi kota Semarang tersebut terdapat makam para syuhada).

Saya jadi ingat Sungai Poiters di Eropa Barat. Saat Abdurrahman al Ghafiki - seorang pemuda asal Seljuk di jaman pertengahan- memimpin perlawanan terhadap dominasi eropa yang telah terobsesi dengan perang agama. Ratusan orang muda yang kira-kira seusia dengan para taruna akademi militer tersebut memerahkan aliran sungai dengan darahnya. Sungai yang kemudian dijuluki balaad asy syuhadaa atau kampung genangan darah syuhada oleh sejarawan. Nama dan penanda yang sama dengan nama jalan ditempat saya berdiri malam ini.


Sekarang. 62 tahun setelah penguburan massal tersebut. Saya yang ditemani seorang teman wartawan perempuan, dan seorang karib yang juga pengasuh pesantren Tahfidzul Qur'an (penghafal al qur'an) di bilangan Pedurungan Semarang, hanya bisa termangu. Melihat makam dan bangunan bekas markas yang masih memperlihatkan bekas tembakan peluru saat itu.

Terangnya kota Semarang dimalam hari yang saya lintasi saat pulang tak lagi mampu mencegah kecamuk pikiran saya. Mata saya tak lagi konsentrasi pada jalan raya yang saya lewati. Apalagi saat karib saya yang duduk dikursi belakang, menunjukkan ironi yang lain: sebuah bangunan tua tak terurus dimana Tan Malaka bersama orang muda Semarang yang tergabung dalam Syarikat Islam pertama kali mendidik anak-anak miskin di tahun 20-an.

Hanya,seorang pengemis kecil yang menengadahkan tangan di perempatan traffic light. Yang membubarkan lamunan. Ketika mulut kecilnya memelas meminta uang receh di balik kaca mobil yang saya kendarai: " Om, saya belum berbuka dengan nasi bungkus sejak tadi ... "

Duh, dinegeri yang konon sangat kaya. Di negeri yang digambarkan musikus Koes Ploes sebagai negeri dimana kolamnya terbuat dari susu. Di negeri yang dibangun dengan belulang orang-orang yang tak pernah berharap imbalan. Di sebuah Bangsa yang entitasnya dibangun oleh cucuran merah darah. Dan pengornanan nyawa anak-muda terbaiknya . Di sebuah negara yang katanya telah membangun selama puluhan tahun ini. Masih terdapat seorang anak kecil yang mengemis karena belum bisa makan apalagi sekolah. Justru hanya berjarak ratusan meter dari Kantor Pemerintahan yang kemarin mencanangkan diri sebagai kota lumbung pangan dan sekolah gratis.

Perasaan yang tak terdefinisikan meluncur deras begitu saja. Kali ini tak lagi bisa saya cegah. Hanya jari saya yang berusaha mengusap tetasan kecil air yang keluar dari sudut mata.

Ah, seandainya perasaan yang sama juga dimiliki pemimpin sebuah partai yang selalu mengkampanyekan diri paling peduli dengan masalah wong cilik. Dan selalu meneriakkan salam pembuka dengan kepalan tangan kanan terangkat, sambil meneriakkan salam: Merdeka! Tentu nasib bangsa ini tak seterpuruk ini.


Tentu tak akan terjadi penjualan aset negeri secara eceran bak kita menjual barang rombeng. Tak akan terjadi pelegoan ladang minyak LNG Tangguh sampai kuota 25 tahun kedepan dengan harga yang sama dengan sendal jepit yang saya pakai.

Atau seandainya pemimpin Desk Ekonomi yang duduk manis di gedung beton kekuasaan moneter juga mengalami seperti yang saya alami. Tentu tak akan banyak travel cheque atau milyaran dana non bujeter BI yang beredar dikantong-kantong anggota parlemen secara sia-sia.

Atau seandainya pemegang pemerintahan juga merasakan hal yang sama. Tentu mereka akan menghentikan pencurian dana APBN dan APBD untuk biaya politik sambil memasang Iklan berbau janji di TV atau koran-koran bahwa dirinya-lah Sang Ratu Adil.

Atau jangan-jangan sebenarnya mereka sering mengalami hal yang sama dengan yang saya rasakan. Bahkan lebih sering. Tapi tembok kekuasaan. Pagar keangkuhan. Dan gelimang uang telah menutupinya begitu kuat.

Dipersilakan mengcopy-paste Tulisan di atas untuk berbagai kepentingan. Lebih disukai bila menyebutkan blog ini sebagai sumber rujukan, dengan teks: gustTALKS


Sahabat bisa berlangganan update terbaru secara free melalui RSS Feed RSS Feed!

Baca Juga Tulisan Terkait:


43 Komentar:

chodirin said...

negeri yg penuh dg ironi.
btw, tulisan2nya enak dibaca. bener2 sastrawan paten mas gus ini.

JoVie said...

Bener2 sebuah perenungan yang sangat dalam...
Duh...kok malah nangis disini setelah baca...
jadi malu *sambil ngusap air mata*
================================
hwebat bener, tulisan yang dalam dan rapih gitu gak ada salah satu katapun yang salah tulis...cuma ada tanda titik dan tanda koma yang lupa gak di spasi...

Jenny Oetomo said...

Begitulah negeri ini, penuh dengan 1001 masalah yang disebabkan ketidakmampuan pimpinan untuk menjaga amanah (baik tingkat kecil s/d besar), semoga ke depan ada secercah sinar sebagai pelita, Salam

I Ketut Riasmaja said...

(1 orang berhasil menyelinap dan menyelamatkan dokumen pertahanan) <---- kalo boleh tahu siapa beliau ini kang? Bagaimana nasib perjuangan beliu sekarang?

gus said...

For Kang Ketut: seorang tersebut bernama H mustofa. dokumen tulisannya sudah dibukukan. saya menggunakan istilah dibukukan. bukan diterbitkan. Beliau meninggal sektar 4 bulan yang lalu. Semasa tokoh tersebut masih sehat, sering dilakukan upacara bendera oleh para veteran. kemudian malamnya dilanjutkan dengan acara khaul. sejenis dzikir massal.

40 jenasah yang sempat dikenali saat penggalian ulang telah dipindahkan ke Makam pahlawan Girilaya Semarang. Sisanya tak terkenali lagi identitasnya. suwun,Kang.

Penanda disitu terdapat makam pahlawan, dibuat oleh sekelompok mahasiswa IAIN Walisongo beberapa tahun lalu. Saat mereka sedang KKN di wilayah tersebut.

jalooe said...

wah suhu ini semakin hebat saja tulisannya.. jadi tambah lagi satu penulis handal di benak saya.. salah satunya Gus ini..

Abi Bakar said...

Bukan bermaksud ghulu namun tulisan suhu hampir mendekati level perfect dimata saya

Caroline Sutrisno said...

dalem bangettt...
setiap kali mampir ke sini saya selalu merasa mendapat banyak hal baru. postingannya sarat info dan perenungan tapi ga ngebosenin bacanya. thanks for sharing...

genthokelir said...

Terhenyak saya dan kembali berputar mencoba memahami isi postingan di atas ,walau butuh waktu lumayan lama namun begitu banyak makna yang tersirat dari tulisan di atas.
Terima kasih ,dan kenankan saya belajar di sini
Salam Kenal dan Terima kasih
Selamat berpuasa

subagya said...

om gus saya jadi terharu setelah membaca artikel ini... jadi untuk tidak mensia-siakan hasil kemerdekaan ini yang telah di peroleh dengan nyawa. darah, dan keringat pemuda masa dahulu..... semoga Amal dan ibadah para pejuang di terima di sisi-Nya. Amiien ya Allah....

enhal said...

Udah ga tau deh mau bilang apa coz udah lengkap bangeet neh tulisan..cuman mau bilang sukses terus deh mas..hehehe.

oeoes said...

kok aku telat ya kang komentarnya, mantap kang untuk dijadikan renungan kita bersama, memang ironis negeri kita ini, ya mungkin lagu koesplus udah gak berlaku lagi di negeri kita ini.
andai saja nantinya muncul sosok pemimpin yang sesuai dengan keinginan kang gus termasuk saya dan blogger semuanya, tapi kapan ya...?
andai saja entah itu kapan....................

Hellen said...

good artikel.... saya jadi terdiam saat membacanya.... mudah2an hati nurani masih dimiliki semua orang, tak terhalangi oleh tembok2 keangkuhan dan kekuasaan...

vacation tourism said...

dalem banget.. gus, memang kadang di hidup ini kita mesti berkaca dari ironi :(

blogger telat komentar [sebokk getu lohh] said...

Wah..terus terang..terang terus kang..http://i270.photobucket.com/albums/jj94/baiduvids/Ico4U/blacy_a/bad_smile.gif..saya baru tahu peristiwa yang kang gus tulis itu..makin lama tulisan kang gus bener2 bikin serasa ikut mengalami kejadian itu..mantep postnya kang..saya mau off blogging doloe nie kang..sebokk banget sama kerjaan..ga sempet ngurus blog beberapa hari ini..*lah kok curhat disini*..xexexexe..mau bls komentar teman-teman saja dulu..lagi indak konser..ehhh konsen kang..http://i270.photobucket.com/albums/jj94/baiduvids/Ico4U/blacy_a/beaten.gif

lanjut kang..hehehe..semoga aja ada pemimpin di negeri ini yg mempunyai hati nurani dan perduli..[tapi dari dalem hati kang..http://i270.photobucket.com/albums/jj94/baiduvids/Ico4U/blacy_a/grimace.gif..bukan karena tuntutan]klo dengan tuntutan biasanya setengah2..klo dari hati kan ga bisa..karena sudah ada komitmen..http://i270.photobucket.com/albums/jj94/baiduvids/Ico4U/blacy_a/haha.gif..ga nyambung dah..http://i270.photobucket.com/albums/jj94/baiduvids/Ico4U/blacy_a/victory.gif

ada ga yah pemimpin yg perduli dengan keadaan rakyat yang sesungguhnya?semoga saja ada yah kang..biarpun peluang itu kecil..tapi hrs tetap optimis..

oiya kang..maaf yee klo telat komentarnya nie..http://i270.photobucket.com/albums/jj94/baiduvids/Ico4U/blacy_a/bad_smile.gif..kan kang gus tau klo saya plng sring telat komentar..maaf isi ikon nie kang..lagi suntuk kang..pisss http://i270.photobucket.com/albums/jj94/baiduvids/Ico4U/blacy_a/victory.gif

eeda said...

No wonder bangsa kita ga bisa jadi besar karena kita tak pernah give a damn sama jasa para pahlawan. Pemimpin2 kita juga ga menberikan contoh yg baik. Terkait makam Syuhada tsb, denger2 sih waktu sukawi sutarip nyalon wali kota yang kedua, dia buat kontrak politik ama warga kl kepilih mau ndandani makam tsb. Tp stlh kepilih, sukawi (pura2) lupa. Warga sampe 4 kali ngusulin proposal tp dibilang suruh ngantri. En hasilnya, waktu si sukawi nyalon gubernur, ga ada 1 wargapun yg nyoblos dia.
Mensos RI kita juga ga jauh beda blundernya. Wong cm njalanin tes DNA buat membuktikan dugaan jasad Tan Malaka aja ga mau. Gimana kl jasad yang di Kediri itu bener2 Tan Malaka? Dosa besar kita sebagai anak bangsa karena ga menghormati pahlawannya dan ga mau ngopeni jasad pahlawannya.
Pantes bangsa kita konflik melulu. Sama yang masih idup aja pada saling ga ngajeni, apalagi sama yang sudah meninggal.

mascayo said...

adakah kita akan sempat menikmati negeri ini dipimpin oleh orang-orang berhati nurani yang tak peduli pada gelimang harta dan kekuasaan gus?
Semoga. Amin

h4rIsS said...

pemimpin yang cinta dunia, apa yg bisa diharapkan? palagi mereka tak bercermin dari pejuang yang mengorbankan jiwa raganya, susah..cinta dunia + tak tau maluu :)

kenny said...

harusnya para pejabat dicekokin ama pendidikan moral ama sejarah.
aku (yg katanya asli smg) baru tahu ttg adanya sejarah diatas duh...malow nya. Makasih tambahan penetahuannya ya.

Duniafien said...

tak perlu b'harap bnyk dr siapapun trmsk pemimpin kt..kita mulai aj dr diri kt sndri, apa yg dah kt korbankan dan kt prsembahkan unt negeri trcinta ni ??? jgn lp bhw setitik saja prbuatan baik yg kt lakukan akan bs merobah paradigma baru bangsa ni, ke arah positif tentunya..jd, tnggu apa lagi ???! salam, thx dah mampir yak, sering2 hehehe..

Milla Widia N said...

masih ada gak sih partai yang benar-benar mengutamakan wong cilik ???

Chic said...

awal membaca, saya merasa seperti sedang nonton film perang... terakhir-akhir, aaah perangnya belum berakhir ya?

hmmmm.. sepertinya memang kita ini belum merdeka Pak...

tyas said...

makin mantep tulisane gus...
tentang partai di indonesia yg benar2 memperhatikan wong cilik..? yang ada kok setau aku hanya yg memperhatikan wong gede dan duit gede....

EbleH 182 said...

Mungkin pemimpin yang baru sedang berupaya untuk menciptakan negeri ini menjadi kaya dan makmur seperti dulu. Tapi sayang, pemimpin yang baru negara ini sudah memiliki harta warisan yang sangat berharga. yaitu hutang2 yang melimpah.

pinky said...

hmm ... artikel yang menarik .....
Lam kenal yach ...
Thanks dah mampir ... :)

Kristina Dian Safitry said...

hiks..hiks...daku dijadikan barang komoditas negara,hu..hu...pengen nangis deh gw...kenapa aku tak dilahirkan ketika bung karno maseh idup.kenapa?

richard said...

tapi susah juga mas, karena faktanya kebanyakan dari kita sudah masuk dalam perangkap. salah satu contoh terdekatnya, ya berharap rupiah melemah dan dollar menguat. why? ya supaya hasil adsense dan sejenisnya itu bernilai tinggi. orang betawi kata: "kompliketit".

Memang harus nyundut semangat eksplorasi atas SDM-SDA nan kaya ini. Ya seperti 75 orang muda tersebut. Dan itu bisa digalakkan di dunia distro, dimana major label nggak bisa banyak cing-cong terhadap market kita. Dan harapan saya, distro itu bukan hanya untuk clothing, music, film, dan software saja, namun semua bidang yang perlu dieksplorasi negri ini demi memaksimalkan kemerdekaan.
Ya, semoga indie label bisa marak di negri ini. Namun, kemarin petani penemu bibit jagung unggulan yang indie label disomasi major label, lalu dipenjarakan. Namun bibit padi major label yang katanya varietas unggul nyatanya dudul mak di kipe dan bisa berkelit kesana kemari untuk membela diri. Sekali lagi: "kompliketit" memang, dan negri ini butuh tipikal "75" itu.

Aqie-Gaul said...

Inilah Indonesia yang katanya : Bangsa yang besar adalah Bangsa yang bisa menghargai jasa para pahlawannya ! Ternyata hanya simbolik belaka slogan itu ! Apa lagu Kolam Susunya Koes Plus harus berubah menjadi : Tanaman sudah jadi batu dan tongkat kayu ??? Sebagai akibat keserakahan individu2 yang tidak tahu dan tidak bisa menghargai jasa para pendahulunya yang telah mengorbankan nyawa nya untuk "Kolam Susu" tersebut !

gus said...

for Kang Richard:kayaknya, Kang richard bersedia jadi yg pertama untuk 75nya ya...seep
For Aqi-Gaul: setujuu aqi....

v3rdee said...

wah ceritanya bagus, ajarin dunk spaya dikomentarin sebanyak ini?

goresan pena said...

terima kasih memberi pemahaman baru untuk saya. tapi pak...di negeri ini, masih saaaangat banyak sekali anak-anak jalanan yang untuk makan aja kesulitan. boro2 mau sekolah...
diperlakukan semena-mena saat di garuk aparat. berdasar pengakuan teman2, ada diantara mereka yang disundut rokok, di gabur, bahkan ada anjal perempuan yang di gundul...
muak rasanya mendengar janji2 surga pemerintah...

tyas said...

nggak ngerti harus komen opo.. mocone bikin arep mrebes mili..

Luangkan waktu 0,5 menit dengan meng-KLIK DIGG!yang terletak dibawah judul posting. Agar artikel ini dibaca mayarakat blogsphere lainnya. Terimakasih atas partisipasi dalam program pencerahan masyarakat blogsphere

Vote reaction:

Post a Comment